Pajak Memang Sudah Seharusnya Diampuni

Standard

Calculating numbers for income tax return with glasses pen and calculator

“Pemberontakan dimulai oleh pajak yang tidak adil”

Kata-kata berapi-api Fuad Bawazier, mantan Dirjen Pajak di era Orde Baru, semalam di acara Indonesian Lawyer Club di TVOne semalam masih terngiang di telingaku. Mungkin benar, beberapa pemberontakan di zaman penjajahan dulu terjadi karena sistem pajak dan upeti yang sewenang-wenang dan itu merupakan lambang ketundukan dan kepasrahan rakyat atau wilayah jajahan.

Bicara soal pajak, kita seperti membicarakan cowok yang di mata cewek selalu salah. Saat penerimaan pajak tidak tercapai yang menyebabkan defisit dan pemotongan anggaran bahkan penundaan penyaluran Dana Alokasi Umum ke daerah, itu karena pajak yang tidak perform, tidak bekerja dengan baik sehingga semua potensi pajak tidak bisa dikumpulkan. Tidak tercapainya target juga dianggap karena masih korupnya pegawai pajak. Orang tidak akan melihat target yang sudah dicanangkan pemerintah itu realistis atau tidak, pokoknya harus tercapai,

Di saat Ditjen Pajak bekerja keras untuk mencapai target. Melakukan pengawasan hingga pemeriksaan atas wajib pajak yang bandel, pajak juga disalahkan. Dibilang mengganggu perekonomian, menakut-nakuti wajib pajak, atau berburu di kebun binatang. Setiap langkah yang dijalankan selalu menemui banyak halangan, dari wajib pajak, instansi lain, atau pihak-pihak yang selama ini membekingi bisnis wajib pajak.

Yang lebih mengherankan lagi, disaat Ditjen Pajak merelakan kewenangannya untuk mengumpulkan pajak dan mengampuni pajak-pajak yang selama ini tidak dilaporkan melalui program tax-amnesty, kembali cibiran dan tentangan masyarakat timbul. Padahal kalau mau jujur, program tax-amnesty akan menggerus banyak potensi pajak yang seharusnya bisa dikumpulkan di tahun ini.

Mau kenceng salah, kendor pun salah. Pajak memang tak pernah benar. Karena memang pada dasarnya tak ada orang yang ikhlas membayar pajak. Orang akan mencari cara untuk menghindari pajak, Bahkan itu pun terjadi di negara maju yang sistem pajaknya sudah canggih dan pemerintahnya bersih, Apatah lagi di negara kita di mana masyarakat tidak atau belum bisa merasakan manfaat pajak secara maksimal. Tentu sikap perlawanan untuk membayar pajak selalu ada dan gampang disulut untuk menjadi viral di sosial media.

Pajak yang selalu salah memang sudah saatnya diampuni. Kalau memang warga negara tidak mau urunan membiayai ongkos peradaban negara ini, silakan mereka mencari sumber-sumber dana lainnya. Biarkan pajak istirahat, barang sehari atau seminggu. Lalu kita nantikan apa yang akan terjadi.

Tapi negara ini bisa apa tanpa pajak?

Dikadalin

Standard

caiman_lizard_1

Waktu kecil saya percaya kalau kadal adalah binatang suci. Konon dia adalah binatang shohabat Kanjeng Nabi. Saya ndak tahu benar atau tidak dan tidak pernah ngoyo untuk mencari tahu hadits dan riwayat tentang hal ini. Saya telan mentah-mentah saja doktrin dari kakek saya, yang abangan tulen.

Anehnya meskipun dipercaya sebagai binatang suci, tapi kakek saya berujar, “Kalau kamu melihat kadal, segeralah meludah. Atau nanti kamu akan bertemu ular.” Nasihat ini benar-benar saya ikuti dan percoyo atau tidak ketika saya lupa meludah, ndak berapa lama kok ya beneran ketemu ular di jalan. Believe it or not, deh…

Saya sempet tengok sebentar di laman wikipedia adalah tergolong binatang reptil dalam subordo lacertilia, yang masih satu keturunan dengan cicak, tokek, bunglon dan yang paling fenomenal adalah komodo. Mungkin mereka masih juga masih sedinasti dengan dinosaurus.

Ngomong-omong soal tokek, saya juga punya cerita khusus. Saya takut kepati-pati dengan binatang ini, sejak kanak sampai kawak sekarang. Alkisah konon, saat saya masih dalam gua garba ibu saya, ada tokek yang berteriak-teriak di empyak rumah. Bapak saya dengan tergopoh-gopoh menyogrok tokek malang tersebut dengan sebilah genter. Tokek yang lupa pegangan itu akhirnya jatuh terkapar. Kepalanya terluka. Sampeyan boleh percaya boleh ndak, saat saya lahir, ada benjolan merah di kepala saya yang masih ada sampai sekarang. Orang Jawa menyebut itu uci-uci, yang tidak ada hubungannya dengan Uci Bing Slamet.

Kembali tentang kadal, saya jadi teringat dengan tetangga saya yang mempunyai warung kelontong kecil-kecilan. Namanya Pak Zakri. Usaha Pak Zakri saat ini boleh dibilang megap-megap. Warung kecilnya kini makin tergencet oleh minimarket yang menjamur di kampungnya. Malah tak jarang ada yang berjejeran atau berhadapan, mirip orang yang-yangan, lengket kaya prangko. Omzetnya yang  terus turun masih diperparah oleh semakin naiknya utang-utang dari para pembelinya. Pelanggannya kebanyakan orang-orang kecil yang tak kalah blangsak dengannya. Hanya di warungnya, orang bisa utang rokok sak ler, atau beras seliter. Coba Anda beli rokok sak ler di minimarket, hambok berani taruhan apa aja kalau sampai dikasih.

Suatu malam Pak Zakri bermimpi. Dalam mimpinya itu, dia bertemu dengan seorang kakek berjanggut putih yang berkibar-kibar diterpa angin. Kakek itu berpesan, “Le, kalau kamu pingin warungmu kembali ramai dan bisa menarik pelanggan-pelanggan minimarket ke warungmu, caranya cuma ada satu. Bebaskan utang-utang pelangganmu dalam waktu sembilan bulan ini. Asal mereka mau membayar uang tebusan senilai harta yang dia punya.”

Pagi harinya, Pak Zakri masih ragu. Apakah ini bisikan iblis atau bisikan malaikat. Dia berpikir, kalau dituruti bisa-bisa dia akan tambah bangkrut. Anehnya mimpi itu terjadi lagi pada dua malam berikutnya berturut-turut. “Tak salah lagi, ini wahyu,” ujarnya yakin.

Sebuah pengumuman terpasang di depan warung Pak Zakri keesokan harinya. “Utangmu bebas, tapi bayar tebusan sik.” Sehari dua hari, tak ada yang percaya dengan pengumuman itu. Kang Soleh yang biasa ngutang, ndak ngerti babar blas dengan pikiran Pak Zakri. “Ini tenanan, Kang. Utangmu sing sak ndayak tak iklaskan, tapi bayar tebusan dulu. Grobak sampahmu itu berapa harganya? atau harta lainnya juga boleh, sampeyan bayar seperlimapuluh saja. Dan ini rahasia kita berdua tok. Yu Sinem, bojomu ndak tak kasih tahu” “Sampeyan nda mbujuki to, Kri?” tanya Kang Soleh. “Tenin!!” jawab Pak Zakri yakin.

Pak Zakri terus mengumumkan programnya berkeliling kampung sendirian. Meyakinkan orang-orang, bahwa programnya ini serius dan ndak mbujuki.

Hari berganti hari, orang mulai datang ke warung Pak Zakri. Yu Tinah yang ndak pernah kelihatan karena utangnya ditagih terus, tiba-tiba datang. “Sugeng rawuh Yu Tinah, gimana kabarnya. Kok lama ndak ngabar-ngabari,” sapa Pak Zakri ramah. “Kabarnya ya gini-gini aja, Pak. Makin kabur,” jawabnya Yu Tinah genit. Singkat cerita Yu Tinah ikut program Pak Zakri, dengan bayar tebusan lima ribu rupiah. “Aku cuma punya harta ini, Pak. Sepeda, harganya kira-kira dua ratus lima puluh ribu. Sumpah, ndak ada lagi hartaku,” jelas Yu Tinah. “Yo wis, ndak papa Yu, saya iklas,” kata Pak Zakri dengan tersenyum kecut.

Berikutnya berbondong-bondong, Kang Soleh, Pakde Barjo dan teman-temannya menebus utangnya dengan uang seadanya. Pak Zakri mulai resah, catatan utang mereka menurutnya lebih besar dari uang tebusan yang diterima.

“Asem, aku dikadalin…”

Tapi dia terpaksa iklas.

Lembur dan Hal-hal Mustahil Lainnya

Standard

Apa yang ada di benakmu saat mendengar kata lembur? Pulang malam, capek, dapat uang tambahan atau lempengin burung?

Banyak yang tak paham arti lembur sesungguhnya. Padahal kitab pusaka bahasa kita alias Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah bersabda sebagai berikut :

image

Begitu gamblangnya KBBI mengartikan kata lembur sehingga tidak ada lagi ruang untuk tafsir lainnya. Ya. hanya dibatasi pekerjaan dan waktu dinas.

Lantas apa makna dinas, lagi-lagi berdasarkan KBBI?

image

Gamblang juga kan? Bahwa dinas selalu berhubungan dengan kantor pemerintahan. Jadi bisa kita simpulkan tanpa ragu-ragu bahwa karyawan swasta atau non pemerintah tidak boleh lembur. Atau tepatnya memakai kata lembur. Jadi harap maklum kalau di kantor swasta lebih dikenal sebagai overtime.

Baiklah, saya tidak mau terjebak dalam hal remeh seperti pemaknaan kata seperti ini. Masih banyak hal-hal mustahil lainnya yang lebih menarik dibahas.

Ketika sebuah organisasi dibebani target yang susah diraih atau mustahil lebih dicapai,  tentu seorang pemimpin dituntut untuk memikirkan langkah dan strategi untuk mencapainya. Langkah-langkah itu lebih tepat kita sebut dalih.

Langkah pertama adalah menawar. Lazimnya orang berjual beli barang atau jasa, menawar atau nyang-nyangan tentu hal yang lumrah. Kita harus menguraikan bagaimana kemampuan organisasi. Apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan. Asumsi-asumsi yang harus ditentukan agar target tercapai. Tentu juga harus menyertakan antisipasi-antisipasi jika benar-benar target itu tidak mungkin tercapai.  Jadi tidak asal sendiko dhawuh aja.

Apabila proses menawar tadi menemui jalan buntu alias gagal. Di mana sang pemberi target berkepala batu dan telah berfirman, “Pokoke harus tercapai,” maka langkah kedua adalah meminta tambahan senjata dan amunisi. Senjata ini bisa berupa penambahan pegawai dan peralatan yang menunjang pekerjaan. Jalur-jalur menuju target harus disterilkan. Bukan seperti jalan tol di Jakarta yang katanya bebas hambatan yang justru menjadi pusat hambatan itu sendiri. Semua langkah-langkah yang akan kita ambil tidak boleh dirintangi oleh siapa pun. Bahkan setan gundul tak boleh melintas. Semua pihak-pihak yang terkait yang masih dalam kuasa sang pemberi target harus membantu dan memberikan apa pun yang diminta untuk pencapaian target.

Apalah artinya senjata jika tanpa amunisi. Amunisi dalam hal ini bisa berarti data-data yang bisa digunakan layaknya peluru yang bisa digunakan untuk menembak tepat sasaran. Data-data ini tak boleh merupakan data mentah. Kita tak bisa menembak sasaran dengan pistol berisi air. Tak bisa membunuh mangsa dengan peluru karet, apalagi mangsa kita seringkali dilindungi jaket antipeluru. Yang kita adalah peluru tajam, setajam silet. Atau rudal bahkan kalau perlu bom atom.

Amunisi lainnya tentulah kompensasi. Gaji atau tunjangan. Beberkanlah kalau perlu dengan busa-busa sepenuhnya bahwa kalau dengan tunjangan yang diterima sekarang target itu tak mungkin dicapai. Gaji dan tunjangan adalah kunci. Kunci segala pintu rezeki, seolah dengannya akan mengucur uang dari sungai-sungai yang tak pernah kering. Yakinkan kepada mereka bahwa target akan tercapai dan jika tidak tercapai kita rela menerima pemotongan tunjangan di tahun berikutnya.

Lalu apakah yang akan terjadi jika target memang benar-benar mustahil dicapai. Semua situasi tak mendukung pencapaian target. Jalur-jalur macet di sana-sini. Mangsa berlindung di dalam bunker tebal dan masih dikawal di sekelilingnya. Asumsi-asumsi sewaktu target dirumuskan meleset semua. Sedangkan gaji dan tunjangan sekaligus tunjangan sudah telanjur dinaikkan.  Sehingga pemotongan tunjangan di tahun depan adalah momok menakutkan. Seseram jika jabatan harus dicopot.

Maka saat itulah lembur adalah solusi. Solusi bukan untuk mencapai target yang mustahil tercapai. Tapi solusi untuk menjadi alasan terbaik yang bisa kita sampaikan. Bahwa kita telah rela bekerja hingga malam hari. Bahwa kantor adalah nomor satu dan keluarga adalah nomor kesekian. Bahwa anak-anak kita rela tidak bercengkerama dengan ayah ibunya. Bahwa kesehatan adalah sesuatu yang murah dan bisa dibeli di mana saja dan kapan saja.

Untuk itu mari kita lembur dengan suka cita untuk target dan hal-hal mustahil lainnya.

 

#FFRabu – Mencari Api

Standard
sumber : pinterest.com

sumber : pinterest.com

Sudah seminggu kabut tebal mengepung kampung. Jelas ini bukan kabut biasa. Bau karbon dari benda terbakar begitu nyata. Padahal musim penghujan baru saja tiba. Tak mungkin semak-semak di ujung kampung itu terbakar lagi. Warga bertambah resah. Satu-satu warga bertumbangan karena sesak napas atau batuk-batuk.

“Kita harus mencari sumber apinya. Tak mungkin ini terjadi tanpa ada yang terbakar!” kata tetua kampung. Akhirnya seluruh warga bergerak, menjelajahi sudut-sudut kampung. Untuk sementara mereka tak boleh menyalakan api.

Menjelang petang mereka pun pulang. Sumber kabut itu tetap misterius. Mereka tambah penasaran, putus asa dan terbakar hatinya.

Malam datang. Tak terasa kabut semakin tebal menggulung.

Menjadi Fiksiminier

Standard

jamur fm

Saya hampir menutup akun twitter saat itu. Setelah setengah tahun tak tahu apa nikmatnya bermain twitter. Hingga akhirnya saya menemukan akun twitter penulis favorit Eka Kurniawan dan Agus Noor. Beberapa minggu kemudian Agus Noor merilis akun baru bernama @fiksimini. Sebuah akun berisi cerita superpendek hanya dalam 140 karakter saja.

Perlahan akun ini menyita sebagian waktu saya. Facebook tampak tak menarik lagi apalagi media sosial seperti Plurk. Hari-hari demi hari hormon (atau apa namanya) imajinasi mengalir tak terbendung menembus jalinan sel otak yang ruwet. Cerita-cerita mini dalam fiksimini sungguh selalu berhulu ledak yang luar biasa yang tak jarang meluluhlantakkan kepala.

Otak akhirnya tak tahan juga hanya menjadi pembaca pasif. Perlu berpuluh kali usaha hingga akhirnya fiksimini saya berhasil menembus kesabaran moderator dan di-RT.

“Sayang, mulai hari ini kamu boleh ngomel sepuasmu. Tapi ditulis aja ya.”

Begitu kira-kira fiksimini pertama saya yang kena retweet. Sensasi rasa saat diretweet ini serasa menikmati candu. Membuat kita semakin larut dalam jerat akun ini. Otak dipaksa berpikir keras untuk memeras imajinasi dan daya khayali. Fiksiminiku mengalir deras walau banyak yang juga tak layak retweet.

Hari-hari menjadi berwarna. Ada yang ditunggu setiap hari. Apa topik fiksimini hari ini dan siapa saja yang kena retweet hari ini. 

Dunia maya yang nirbatas ternyata bisa menjadi ruang bermain yang asyik. Keakraban di dunia maya ternyata membuat kita penasaran seperti apa sosok-sosok di balik akun-akun yang rajin membikin fiksimini, yang kelak disebut fiksiminier. Akhirnya berjamurlah akun-akun fiksimini regional di kota-kota besar di seluruh nusantara. Kopi darat akhirnya tak terelakkan. Hingga puncaknya Gathering Nasional Pertama Fiksimini diadakan di TIM Jakarta.

Saya bukanlah orang yang gampang akrab dengan teman baru. Hingga jarang aktif di setiap acara kopdar. Namun saat mengikuti gathering nasional FM, ternyata dugaan saya selama ini salah. Awalnya memang malu-malu tapi kemudian keakraban layaknya keluarga itu mencair dengan sendirinya.

Sejak saat itu fiksimini tak hanya sebuah dunia dalam 140 karakter saja. Proses kreatif yang berawal dari fiksimini bergulir cepat. Lahirlah film mini, lagu mini, kelas kreatif menulis, bakti sosial, buku-buku hasil karya fiksiminier dan karya-karya kreatif lainnya.

Sekarang lima tahun telah berlalu. Fiksimini mungkin tak lagi seriuh dulu. Saya bahkan mulai jarang main fiksimini lagi. Bukan karena saya sudah menjadi selebtwit yang setiap twitnya bisa menjadi rupiah, bosan atau apalah. Saya merasa kesusahan untuk membuat fiksimini lagi. Mungkin karena terlalu lama vakum atau embuh. Tapi yang membuat senang adalah setiap hari muncul nama-nama baru dengan karya fiksimini yang terus berkembang. Fiksimini tidak mati meski pemain-pemain lamanya sudah banyak yang gantung jempol.

Satu lagi yang menyenangkan di komunitas ini, rasa kekeluargaan itu tak pernah mati. Keakraban di dunia maya dan nyata itu faktamaksi. Sebuah fakta yang besar tak terbantahkan.

Pada akhirnya mengutip kata Agus Noor, sebuah komunitas menjadi besar bukan karena siapa pendirinya tapi karena kreativitas orang-orang di dalamnya.

Berbahagialah karena Anda adalah fiksiminier.

Merencanakan Kehilangan

Standard
https://www.flickr.com/photos/giladbenari/4759755795/

https://www.flickr.com/photos/giladbenari/4759755795/

Betapa sangat dia ingin menghilang. Hilang tanpa jejak dan tak pernah bisa ditemukan lagi. Seperti kapur barus yang pelan-pelan menyublim bersenyawa dengan udara kamar. Tubuhnya menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang misterius.

Pikiran untuk menghilang ini sudah tumbuh di otaknya sejak dia mulai bisa mengingat sesuatu. Kehadirannya di dunia adalah sesuatu yang dihindarkan ayah dan ibunya. Segala teknik pengguguran janin dari berbagai dokter dan dukun beranak tak mampu mencegahnya keluar dari liang peranakan ibunya. Lima jam setelah kelahirannya dia ditaruh begitu saja dengan ari-ari yang masih membebat tubuhnya di depan mushola desa. Tapi beberapa saat kemudian dirinya dikembalikan ke rumah ibunya karena aksinya terpergok petugas ronda yang kebetulan melintas dini hari itu.

Continue reading

Lelaki Tua Pedagang Sapu Lidi di Depan Istana

Standard

instagram 1

 

Cerita oleh@sigitharjo

Foto oleh @elmanohara

 

Lelaki tua itu bergegas membereskan dagangannya, beberapa ikat sapu lidi. Raut kecewa tergurat di wajahnya yang penuh kerut dimakan usia. Beberapa pengawal istana terus menghardiknya. “Enyah dari sini, Pak Tua!!”

 

Usaha lelaki tua itu telah sempurna, tapi hasilnya tetap sia-sia. Sudah puluhan kantor pemerintah dia datangi untuk menjual sapu lidi miliknya. Tetapi hanya penolakan yang dia dapatkan.

Continue reading

Surat Cinta untuk Selebtwit Idolaku Papah Gembul @JvTino

Standard

tino

 

Sudah sekian lama aku memendam perasaan ini duhai Papah Gembulku. Dan rasa itu kian menggelegak dalam relung-relung pembuluh darahku. Menjepit-jepit urat-urat syarafku. Rasanya tak ada yang bisa membendung lagi.

Dengan segala kerendahan hati, melalui surat ini aku ingin mengungkapkan segala rasa, cipta dan karsaku.

“Kita berantem aja yukkk !!!”

Aku tunggu kamu di Bukit Tengkorak

Di malam bulan purnama

“Pendekar Tahu Campur”

 

 

Ziarah

Standard

kuburan

 

Hujan jatuh malas-malasan dari angkasa. Butir-butir air seperti enggan menerpa bumi meski angin terus mendorongnya dari udara. Senja datang lebih cepat di pekuburan yang sepi ini. Aku masih duduk termangu di tepi makam yang basah karena tak dilindungi cungkup. Tak seperti makam-makam lainnya.

“Maafkan aku, Ibu”. Entah berapa kali kata ini terucap dari bibirku yang kelu menahan dingin.

Makam itu telah lama tak pernah aku ziarahi. Rumput ilalang tinggi telah subur menutupi. Sementara tanahnya mulai longsor dikikis air hujan. Nisan kayu yang tertancap di atasnya pun mulai keropos digerogoti rayap. Ibuku terbaring untuk selamanya dalam gundukan tanah ini. Wanita yang selama ini hanya bisa menelan pahit kecewa akibat tingkah lakuku.

Continue reading

Bagian Pertama dari Sebuah Catatan Perjalanan 9 Bulan 10 Hari

Standard

Waktu terus menggelinding. Seperti sebutir bola yang meluncur di jalanan yang menurun. Semakin cepat, melipat usia dan memperpendek jarak ke alam barzah. Adalah dusta jika aku bilang semua itu tak terasa. Aku masih ingat setiap getir, juga manis yang kucecap selama 9 bulan 10 hari terakhir ini. Adalah sebuah kebodohan jika aku tidak menyarikan semuanya dalam tulisan ini. Sebagai pengingat bahwa aku masih bisa menjalani.

28 Januari 2012

Sore itu mendung bukan hanya mengepung sekeliling kantor. Dia juga berkerubung di hatiku. Seisi ruangan heboh, mereka berkumpul di beberapa buah komputer. Ya, ada Surat Keputusan Mutasi dan promosi yang keluar senja itu. Aku masih asyik di depan komputer, sedikit abai dengan keriuhan itu karena ada tugas yang harus kuselesaikan karena tenggat yang semakin dekat. Tak ada sedikit pun bahwa ada namaku terrselip di antara ratusan nama-nama itu. Mengingat masih banyak senior yang mampu dan sudah waktunya untuk dipromosikan.

Continue reading